Beranda | Artikel
Tafsir Surah An-Naziat (Bag. 1): Allah Bersumpah dengan Para Malaikat
9 jam lalu

Muqaddimah surah

Surah An-Naziat adalah surah ke-79 dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah surah Makkiyah yang dominan isinya adalah akidah dan keyakinan seorang muslim. Nama An-Naziat diambil dari penggalan awal surat ini, yang bermakna, “Malaikat yang mencabut ruh dengan keras/kasar”.

Surah ini memiliki beberapa tema utama.

Pertama, penjelasan tentang sebagian malaikat dan tugas yang mereka emban.

Kedua, menjelaskan tentang keadaan orang musyrik yang mengingkari hari kiamat.

Ketiga, menceritakan kisah Fir’aun di zaman Nabi Musa, dimana Fir’aun dengan sombongnya mengaku sebagai tuhan, maka Allah hancurkan dengan ditenggelamkan ke dalam lautan.

Keempat, menceritakan tentang kesombongan penduduk musyrik Makkah yang menentang dakwah Nabi.

Kelima, ditutup dengan penjelasan bahwa hari kiamat akan datang, namun tidak ada yang tahu kapan datangnya.

Tafsir surah An-Nazi’at

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ

“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 1)

Allah bersumpah dengan menyebut malaikat An-Naziat. Mereka adalah malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan pencabutan yang keras lagi kasar. Sebagai balasan keburukan mereka di dunia yang tidak taat kepada Allah. Permulaan kematian orang kafir saja sudah sebegitu mengerikannya, apalah lagi kehidupan setelahnya. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)

Ketika malaikat hendak mencabut nyawa orang kafir, mereka berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang busuk, yang berada dalam jasad yang buruk, keluarlah kalian menuju kemarahan Allah.” Ketika dipanggil demikian, maka arwah mereka menolak, sangat takut, berpegangan erat kepada jasadnya, sehingga sulit untuk ditarik. Sehingga malaikat menarik mereka dengan keras dan kasar agar bisa terlepas, hingga jasad tersebut hampir terkoyak, robek, dan terbelah karena saking kerasnya tarikan tersebut. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ

“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 2)

An-Nasyithoh adalah malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan lemah lembut dan hati-hati.

Ketika malaikat ini hendak menyabut nyawa orang yang mukmin, mereka memberikan kabar gembira, “Wahai jiwa yang baik, yang berada dalam jasad yang baik, mari keluar menuju keridaan Allah Ta’ala.” Jiwa orang mukmin ini menyambut dengan penuh kegembiraan, sehingga keluarlah dari jasad dengan mudah. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)

Dalam hadis dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ . فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ « لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.”

Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridaan serta surga-Nya, ia suka bertemu Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685)

Seorang mukmin pasti kangen dan gembira dengan perjumpaannya dengan Allah, dan pintu pertama perjumpaan tersebut adalah kematian. Dengan gembiranya dirinya untuk bertemu Allah, membawa amal kebajikan, maka malaikat juga mudah untuk mencabut nyawanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ

“Demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 3)

Malaikat yang turun dari langit membawa perintah dari Allah. Allah memberikan malaikat kekuatan yang sangat besar untuk menjalankan perintah-perintah tersebut, sehingga bisa menjalankannya dengan baik.

Dalam Tafsir Juz Amma, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang kekuatannya sangat besar, jauh lebih besar dari kekuatan jin, kemudian kekuatan jin itu lebih besar dari manusia.

Dalam kejadian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam meminta didatangkan singgasana Ratu Balqis (atau Bilqis) dari negeri Yaman menuju negeri Syam, yang jaraknya lebih dari 2000 kilometer, salah satu pendapat mengatakan bahwa yang memindahkan singgasana tersebut sebelum Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengedipkan matanya adalah malaikat yang Allah tugaskan dan beri kekuatan untuk bisa memindahkan secepat itu. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsmainin, hal. 30)

Demikianlah, dan berbagai kejadian lainnya yang menunjukkan bahwa Allah memberikan kekuatan luar biasa kepada malaikat. Namun, jangan lupa bahwa pemilik kekuatan dan kekuasaan sejati hanyalah Allah; semua makhluk tidak dapat melakukan apapun, bahkan sekedar mengedipkan mata, melainkan dengan izin dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ

“(Malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 4)

Salah satu pendapat menyebutkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah malaikat yang dengan cepat membawa ruh kaum muslimin menuju surga. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ

“Dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 5)

Allah bersumpah dengan para malaikat yang mendapatkan tugas mengatur berbagai urusan dunia dan urusan langit seperti mengatur urusan ruh, hujan, rezeki, mencatat amal, dan selain hal-hal tersebut. Di antara malaikat yang mengemban tugas sangat penting adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu, malaikat Mikail yang bertugas mengatur hujan dan pepohonan, malaikat Malik yang menjaga neraka, malaikat Ridwan yang menjaga surga, serta malaikat lainnya.

Allah Ta’ala bersumpah dari ayat pertama sampai ayat kelima dengan para malaikat. Dalam sumpah, ada hal yang digunakan untuk bersumpah yang disebut muqsam bih dan ada hal yang ditegaskan dengan sumpah tersebut yang disebut dengan muqsam ‘alaih. Seperti seseorang bersumpah, “Demi Allah, besok hutangmu saya bayar”; maka kata “Allah” adalah muqsam bih yang digunakan bersumpah, dan kata “saya bayar hutangmu besok” adalah muqsam ‘alaih.

Dalam ayat pertama sampai kelima dari surah An-Naziat, Allah hanya menyebutkan muqsam bih saja, tanpa menyebutkan muqsam ‘alaih atau perkara yang ingin ditegaskan dengan sumpah. Para ulama kemudian mencari apa muqsam ‘alaih yang Allah inginkan. Mereka menafsirkan bahwa muqsam ‘alaih-nya adalah “bahwasanya hari kiamat pasti akan datang.” Sehingga lengkapnya dari sumpah Allah tersebut adalah, “Demi para malaikat yang memiliki berbagai keistimewaan, pastilah hari kiamat akan datang kepada kalian.” (Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hal. 583)

[Bersambung]

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/113293-tafsir-surah-an-naziat-bag-1.html